Rabu, 08 Desember 2010

Pengertian Perilaku Konsumtif


Pengertian perilaku menurut Sarwono (1992, h.16) adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh satu individu dengan individu lainnya dan bersifat nyata. Perilaku mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan pengertian secara sempit (Chaplin, 1997, h.53). Pengertian perilaku secara luas mencakup segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang, sedangkan dalam arti sempit perilaku mencakup semua reaksi yang dapat diamati.

Pengertian konsumsi menurut Zain dan Badudu (1994, h.714) adalah pemakaian barang-barang hasil industri, barang-barang keperluan sehari-hari. Menurut Barnhart dan Williams (Falk, 1994, h.6) istilah konsumsi berasal dari bahasa latin yaitu consumere dan consummare. Consumere mempunyai arti menggunakan sepenuhnya atau seluruhnya. Adapun consummare mengandung arti menghimpun, menjumlahkan, atau melengkapi.

Pembahasan tentang perilaku konsumsi terkait dengan konsumen dan perilakunya. Menurut Schiffman dan Lazar (1987, h.704) konsumen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konsumen perseorangan dan konsumen organisasi. Konsumen perseorangan yaitu seseorang yang membeli barang dan menggunakan jasa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sedangkan konsumen organisasi yaitu seseorang yang membeli produk, perlengkapan, dan jasa untuk menjalankan suatu perusahaan. Menurut Walters (1970, h.14) konsumen adalah individu yang membeli atau mempunyai kapasitas untuk melakukan pembelian terhadap barang dan jasa yang ditawarkan oleh pihak institusi pemasaran dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan memuaskan keinginannya.

Berdasarkan pengertian konsumen dan perilaku diatas dapat dijelaskan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut (Engel, 1995, h.8). Engel menambahkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya melibatkan apa yang dikonsumsi seseorang tetapi juga menyangkut dimana, seberapa sering, dan dalam kondisi seperti apa barang dan jasa tersebut dikonsumsi.

Falk (1994, h.9) menyatakan bahwa masalah yang selalu menjadi teka teki yang berkepanjangan dalam kaitannya dengan konsumsi dan perilaku konsumen adalah pertanyaan yang berkaitan dengan:

a. Ketentuan batas-batas keinginan yang melampaui batas kebutuhan yang dianggap perlu.

b. Kenyataan bahwa keinginan manusia tidak ada batasnya.

c. Hadirnya sesuatu yang dianggap baru tidak pernah berakhir.

Permasalahan ini mencerminkan bahwa perilaku konsumsi individu tidak selalu untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi sebagian besar perilaku konsumsi didasarkan pada keinginan-keinginannya. Menurut Peter dan Olson (1995, h.115) kepercayaan, sikap, dan keinginan yang tidak terkontrol dan terbentuk dalam diri konsumen disebut dengan perilaku konsumtif.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (Al-Ghifari, 2003, h.144) memberikan batasan perilaku konsumtif sebagai kecenderungan konsumsi tiada batas dan lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Manusia lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan pada saat memiliki uang lebih dan biasanya menyebabkan orang melakukan pengeluaran untuk bermacam-macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.

Dahlan (Al-Ghifari, 2003, h.144) menyatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata.

Menurut Sumartono (Al-Ghifari, 2003, h.142) seseorang yang konsumtif mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Membeli produk untuk menjaga status, penampilan, dan gengsi.

2. Memakai sebuah produk karena adanya unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk tersebut.

3. Adanya penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan menimbulkan rasa percaya diri.

4. Membeli produk dengan pertimbangan harga bukan karena manfaat dan kegunaannya.

5. Membeli karena kemasan produk yang menarik.

6. Membeli produk karena iming-iming hadiah.

7. Mencoba produk sejenis dengan dua merk yang berbeda.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli barang-barang dan jasa yang sifatnya kurang diperlukan dan hanya mementingkan faktor keinginan dan kesenangan dibandingkan dengan faktor kebutuhan.

3 komentar:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai Perilaku konsumtif, silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3519/1/JURNAL_2.pdf
    semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. agan... boleh minta daftar pustaka tokoh di atas gk?? mohon bantuannyaa.. thxx

    BalasHapus
  3. cantumkan daftar pustaka para ahli diatas

    BalasHapus